Senin, 25 April 2022

Wayang Kulit Purwa Pengertian, Asal-usulnya, dan Macamnya

Contoh : Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta Tokoh Pandhawa 5 & Kresna

Wayang Kulit Purwa.Kata purwa atau pertama digunakan untuk memisahkan wayang jenis ini dengan wayang kulit yang lainnya. Banyak ragam wayang kulit antara lain Wayang Wahyu, Wayang Sadat, Wayang Gedhog, Wayang Kancil, Wayang Pancasila dan sebagainya. 

Purwa memiliki makna yaitu permulaan/awal/pertama, wayang purwa diperkirakan memiliki umur yang tertua dibanding dengan wayang kulit lainnya.Bukti awal keberadaan wayang kulit ini dapat ditilik dari prasasti yang ada pada abad ke 11  Kemungkinan mengenai berita adanya wayang kulit purwa dapat dilihat dari adanya prasasti di abad ke 11 pada masa pemerintahan pada zaman pemerintahan Sri Kanjeng Maharaja Prabu Airlangga Wisnumurti yang mengatakan bahwa :


"Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap"

Artinya ialah:

Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang ditatah berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara


Kutipan di atas adalah bagian 59 dalam Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa (1030), satu di antara yang ada sumber tertulis tertua dan asli tentang pertunjukan wayang kulit yang mulai dikenal di Jawa, saat itu pada masa pemerintahan Sri Maharaja Dharmawangsateguh dan Airlangga di Kerajaan Kediri.


Wayang purwa ini menggunakan cerita yang diambil kisah Ramayana dan Mahabarata, sementara itu jika sudah menjalar ke cerita Panji umumnya disajikan menggunakan Wayang Gedhog.Wayang kulit purwa sendiri masih terbagi menjadi beberapa gagrag, seperti gagrag 

a. Ngayogyakarta, 

b. Surakarta, 

c. Mangkunegaran, 

d. Banyumasan, 

e. Jawatimuran (Jegdongan),

f. Kedu (Wonosobo), 

g. Cirebon, dan yang lain.


Wayang kulit purwa secara umum terbuat dari bahan kulit hewan (sapi & kerbau) yang ditatah dan diwarnai (disungging) sesuai dengan aturan pulasan wayang pedalangan, diberi pegangan (tangkai/gapit) dari bahan tanduk, bambu, maupun rotan yang diolah sedemikian rupa dan disebut dengan cempurit yang terdiri dari tuding dan gapit (tangkai)



Jika dilihat dari ukuran, wayang kulit purwa dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok antara lain:

a. Wayang Kidang Kencana, berukuran sedang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, sesuai dengan kebutuhan untuk mendalang (wayang pedalangan).

b. Wayang Ageng, berukuran besar, terutama anggota badannya di bagian sisi-sisinya dan kaki melebihi wayang biasa, wayang ini disebut wayang jujudan.

c. Wayang Kaper, berukuran lebih kecil daripada wayang biasa.

d. Wayang Kateb, wayang yang ukuran kakinya terlalu panjang tidak proporsional dengan badannya.

Seiring berjalannya waktu bentuk ukuran wayang kulit ini mengalami perkembangan lebih-lebih pergeseran dari yang tradisi lama menjadi kreasi baru. Pada zaman Kejayaan Keraton Surakarta  diciptakan wayang dalam ukuran yang sangat besar dan kemudian dinamai dengan nama Kyai Kadung, hal ini yang mungkin menjadikan para dalang khususnya Surakarta teringin untuk membuat wayang dengan ukuran yang jauh lebih besar lagi. Misalnya Alm. Ki Mulyanto Mangkudarsono dari Sragen, Jawa Tengah membuat wayang berukuran raksasa dengan ukuran 2 meter, menggunakan bahan 1 lembar kulit kerbau besar dan masih harus disambung lagi. Karya ini yang kemudian ditiru oleh Dalang Muda lainnya antara lain Alm. Ki Entus dari Tegal, Ki Purbo Asmoro dari Surakarta, Ki Sudirman dari Sragen dan masih banyak lagi dalang lainnya.


Alm. Ki Entus Susmono dari Tegal bahkan sudah banyak membuat kreasi wayang kulit ini, mulai dari wayang Rai Wong (bermuka orang) seperti George Walker Bush, Saddam Hussein, sampai pada tokoh-tokoh pejabat pemerintah seperti Gus Dur, SBY, Jokowi, wayang planet, dan wayang tokoh kartun seperti superman, batman, ksatria baja hitam, robot, dinosaurus.Ki Entus juga mengkombinasikan wayang gagrak Cirebonan dengan Wayang Gagrak Surakarta (bentuk bagian atas wayang Cirebon dan bawah Surakarta).


Penambahan tokoh wayang dalam pergelaran wayang kulit purwa juga semakin banyak dan variatif, misalnya dengan ditambahkannya berbagai boneka wayang tokoh polisi, Helikopter, ambulans, barisan Tentara, Pemain drum band, sampai tokoh Mbah Marijan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Paraga/Tokoh Wayang

  Nakula (Si Kembar) Nakula & Sadewa Gaya Yogyakarta  Nakula Nakula adalah kakak tua dari saudara kembarnya, Sadewa. Ia digambarkan seb...