Selasa, 09 Agustus 2022

Paraga/Tokoh Wayang

 Nakula (Si Kembar)

Nakula & Sadewa Gaya Yogyakarta 

Nakula

Nakula adalah kakak tua dari saudara kembarnya, Sadewa. Ia digambarkan sebagai kesatria pandawa yang rajin dan giat bekerja. Penampilannya juga tidak sembarangan dengan pakaian rapi dan bagus namun tetap dermawan. Hal ini diibaratkan, dalam pewayangan, Nakula adalah sosok yang digambarkan sebagai perwujudan ibadah zakat dan haji. Mereka yang berzakat adalah orang-orang yang dermawan dan mereka yang naik haji adalah yang mampu.


Di sisi lain, Nakula juga diibaratkan sebagai jari manis. Sebagai kakak kembar dari saudaranya, Sadewa, sebenarnya Nakula memiliki perawakan yang lebih tampan ketimbang Arjuna karena Nakula adalah simbol dari ketampanan, keindahan, dan keharmonisan. Oleh karenananya, cincin pernikahan selalu diletakkan di jari manis sesuai sifat Nakula yang tampan, indah, dan harmonis. 


Senin, 08 Agustus 2022

Paraga/Tokoh Wayang

Sadewa (Si Kembar)

Nakula & Sadewa Gaya Yogyakarta 
Sadewa
Sadewa yang merupakan adik termuda dalam Pandawa Lima memiliki sifat yang mirip dengan kakak kembarnya, Nakula. Ia dalam berpenampilan juga rapi dan bagus sehingga sedap dipandang mata. Sifat yang selalu memberi juga tampak dari dirinya persis seperti Nakula. Oleh karenanya, ibadah zakat dan haji dilekatkan pada dua tokoh kembar ini, yang artinya tidak terpisahkan oleh keadaan mereka yang mampu dalam hal kekayaan.

Sadewa sebagai adik terkecil diibaratkan pula sebagai jari kelingking, yakni jari terkecil. Ia digambarkan sebagai orang yang mampu membawa kestabilan dan kebersihan. Di dalam salah satu kisah pewayangan, kemampuan Sadewa ini diceritakan sampai mampu membersihkan Bethari Durga untuk kembali ke wujud awal beliau,Dewi Uma. Hal ini menggambarkan Sadewa sebagai jari kelingking yang mampu membersihkan sampai ke sela-sela terkecil apapun.


Paraga/Tokoh Wayang

 Janaka (Arjuna)



Janaka Gaya Yogyakarta 


Arjuna

Arjuna yang juga dikenal dengan nama Janaka adalah seorang yang suka bertapa. Ia berjiwa teguh serta berwajah tampan. Dalam pewayangan, dengan pertapaannya ini, Arjuna digambarkan sebagai sifat orang yang rajin menjalankan ibadah puasa, ia akan memiliki jiwa yang kuat dan tenang untuk menghadapi segala tantangan dan cobaan hidup.


Dalam pewayangan, Arjuna juga diibaratkan sebagai jari tengah. Ini diibaratkan Arjuna sebagai lelananging jagad (lelaki dunia) yang menjadi impian setiap wanita. Sebenarnya ia tidak begitu tampan dan rupawan, bahkan Arjuna sering keluar-masuk hutan, berjambang banyak (brewok) dan kasar perawakannya. Namun demikian, ia tetap menjadi impian wanita dikarenakan mampu untuk “menyenangkan” hati para wanita. 



Paraga/Tokoh Wayang

 Werkudara (Bima)

Werkudara Gaya Yogyakarta 

Bima

Bima atau Werkudoro digambarkan memiliki sosok yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa dan wajah yang garang tetapi selalu menunduk seperti orang shalat. Bila sedang melakukan sesuatu, Bima tidak bisa diganggu sampai ia selesei. Hal ini memberi pesan bahwa orang yang sedang shalat tidak bisa diganggu gugat. Ia juga mempunyai kekuatan yang disebut sebagai Aji Pancanaka yang berarti lima kekuatan. Lima kekuatan ini adalah shalat lima waktu, yakni subuh, dhuhur, ashar,maghrib, dan isya’.


Dalam pewayangan, Bima juga diibaratkan sebagai jari telunjuk. Ia memiliki perawakan raksasa dengan hati yang lurus seperti jari telunjuk dan galak untuk mengingatkan sesuatu. Hal ini seperti budaya masyarakat kita, yang jika sedang marah akan menggunakan jari telunjuk yang mengacung untuk mengingatkan kesalahan kepada orang lain.

Paraga/Tokoh Wayang

Puntadewa (Yudhistira)

Puntadewa Gaya Yogyakarta 

Yudhistira atau yang juga dikenal sebagai Puntadewa adalah kakak tertua dari Pandawa Lima. Sebagai seorang pemuka dalam Pandawa Lima, di atas mahkotanya terdapat secarik kertas putih yang menjadi jimat kesaktiannya. Jimat ini disebut sebagai Klimo Sodo atau Syahadatain, “Laailahaillallah Muhammadarrasulullah”. Hal ini menggambarkan seseorang yang telah berucap kalimat syahadat akan memiliki keyakinan mendalam sehingga dapat memunculkan kekuatan untuk mengalahkan kejahatan.


Selain itu, tokoh Yudhistira dalam pewayangan juga diibaratkan sebagai ibu jari (jempol) yang mengibaratkan kakak tertua untuk menaungi dan memberi contoh kesopanan dalam kehidupan. Yudhistira digambarkan memiliki karakter yang menerima (nrimo) dengan selalu mengatakan “silakan” atau “monggo”. Dalam budaya Jawa, perkataan ini selalu dibarengi dengan ibu jari yang menunjukkan arah untuk menggambarkan kesopanan atau suatu persutujuan. 

Senin, 25 April 2022

Wayang Kulit Purwa Pengertian, Asal-usulnya, dan Macamnya

Contoh : Wayang Kulit Purwa Gaya Yogyakarta Tokoh Pandhawa 5 & Kresna

Wayang Kulit Purwa.Kata purwa atau pertama digunakan untuk memisahkan wayang jenis ini dengan wayang kulit yang lainnya. Banyak ragam wayang kulit antara lain Wayang Wahyu, Wayang Sadat, Wayang Gedhog, Wayang Kancil, Wayang Pancasila dan sebagainya. 

Purwa memiliki makna yaitu permulaan/awal/pertama, wayang purwa diperkirakan memiliki umur yang tertua dibanding dengan wayang kulit lainnya.Bukti awal keberadaan wayang kulit ini dapat ditilik dari prasasti yang ada pada abad ke 11  Kemungkinan mengenai berita adanya wayang kulit purwa dapat dilihat dari adanya prasasti di abad ke 11 pada masa pemerintahan pada zaman pemerintahan Sri Kanjeng Maharaja Prabu Airlangga Wisnumurti yang mengatakan bahwa :


"Hanonton ringgit manangis asekel muda hidepan, huwus wruh towin jan walulang inukir molah angucap"

Artinya ialah:

Ada orang melihat wayang menangis, kagum, serta sedih hatinya. Walaupun sudah mengerti bahwa yang dilihat itu hanya kulit yang ditatah berbentuk orang dapat bergerak dan berbicara


Kutipan di atas adalah bagian 59 dalam Kakawin Arjuna Wiwaha karya Empu Kanwa (1030), satu di antara yang ada sumber tertulis tertua dan asli tentang pertunjukan wayang kulit yang mulai dikenal di Jawa, saat itu pada masa pemerintahan Sri Maharaja Dharmawangsateguh dan Airlangga di Kerajaan Kediri.


Wayang purwa ini menggunakan cerita yang diambil kisah Ramayana dan Mahabarata, sementara itu jika sudah menjalar ke cerita Panji umumnya disajikan menggunakan Wayang Gedhog.Wayang kulit purwa sendiri masih terbagi menjadi beberapa gagrag, seperti gagrag 

a. Ngayogyakarta, 

b. Surakarta, 

c. Mangkunegaran, 

d. Banyumasan, 

e. Jawatimuran (Jegdongan),

f. Kedu (Wonosobo), 

g. Cirebon, dan yang lain.


Wayang kulit purwa secara umum terbuat dari bahan kulit hewan (sapi & kerbau) yang ditatah dan diwarnai (disungging) sesuai dengan aturan pulasan wayang pedalangan, diberi pegangan (tangkai/gapit) dari bahan tanduk, bambu, maupun rotan yang diolah sedemikian rupa dan disebut dengan cempurit yang terdiri dari tuding dan gapit (tangkai)



Jika dilihat dari ukuran, wayang kulit purwa dapat dikelompokkan menjadi beberapa kelompok antara lain:

a. Wayang Kidang Kencana, berukuran sedang tidak terlalu besar juga tidak terlalu kecil, sesuai dengan kebutuhan untuk mendalang (wayang pedalangan).

b. Wayang Ageng, berukuran besar, terutama anggota badannya di bagian sisi-sisinya dan kaki melebihi wayang biasa, wayang ini disebut wayang jujudan.

c. Wayang Kaper, berukuran lebih kecil daripada wayang biasa.

d. Wayang Kateb, wayang yang ukuran kakinya terlalu panjang tidak proporsional dengan badannya.

Seiring berjalannya waktu bentuk ukuran wayang kulit ini mengalami perkembangan lebih-lebih pergeseran dari yang tradisi lama menjadi kreasi baru. Pada zaman Kejayaan Keraton Surakarta  diciptakan wayang dalam ukuran yang sangat besar dan kemudian dinamai dengan nama Kyai Kadung, hal ini yang mungkin menjadikan para dalang khususnya Surakarta teringin untuk membuat wayang dengan ukuran yang jauh lebih besar lagi. Misalnya Alm. Ki Mulyanto Mangkudarsono dari Sragen, Jawa Tengah membuat wayang berukuran raksasa dengan ukuran 2 meter, menggunakan bahan 1 lembar kulit kerbau besar dan masih harus disambung lagi. Karya ini yang kemudian ditiru oleh Dalang Muda lainnya antara lain Alm. Ki Entus dari Tegal, Ki Purbo Asmoro dari Surakarta, Ki Sudirman dari Sragen dan masih banyak lagi dalang lainnya.


Alm. Ki Entus Susmono dari Tegal bahkan sudah banyak membuat kreasi wayang kulit ini, mulai dari wayang Rai Wong (bermuka orang) seperti George Walker Bush, Saddam Hussein, sampai pada tokoh-tokoh pejabat pemerintah seperti Gus Dur, SBY, Jokowi, wayang planet, dan wayang tokoh kartun seperti superman, batman, ksatria baja hitam, robot, dinosaurus.Ki Entus juga mengkombinasikan wayang gagrak Cirebonan dengan Wayang Gagrak Surakarta (bentuk bagian atas wayang Cirebon dan bawah Surakarta).


Penambahan tokoh wayang dalam pergelaran wayang kulit purwa juga semakin banyak dan variatif, misalnya dengan ditambahkannya berbagai boneka wayang tokoh polisi, Helikopter, ambulans, barisan Tentara, Pemain drum band, sampai tokoh Mbah Marijan.

Paraga/Tokoh Wayang

  Nakula (Si Kembar) Nakula & Sadewa Gaya Yogyakarta  Nakula Nakula adalah kakak tua dari saudara kembarnya, Sadewa. Ia digambarkan seb...